Pluralisme Tafsir dalam Pendidikan Musik

03 Agustus 2016 16:14
-
Penulis: Dion Janapria
Foto: Istimewa
Editor: Adiyanto

 

Dalam tulisan ini saya ingin mencakup pembahasan atas bagaimana proses pembelajaran musik ditempatkan dalam konteks keragaman dan kompleksitasnya, dan beragam masalah dari perspektif akademik dalam mengajarkan beragam interpretasi musik barat. Kiranya menarik apabila nantinya kita bisa memahami tahapan-tahapan ini dalam kaitannya dalam proses pembelajaran seni musik pada umumnya.

Musik dalam bentuk naratifnya, dapat dipahami secara luas sebagai fenomena auditoris yang diproduksi dan diapresiasi secara intensional. Kesan atau makna yang timbul dalam hal ini sangat bergantung kepada pengalaman dan formula dari teks lain yang kita kenal sebelumnya, untuk menerjemahkannya ke dalam kerangka imajinasi, dan komunikasi yang relevan bagi tiap orang. Dalam perspektif intertekstualitas, sebuah karya  masterpiece dari J.S Bach misalnya, mungkin hanya akan berbunyi seperti nada-nada tidak bermakna bagi sekelompok orang yang tinggal di pedalaman yang tidak pernah terekspos dengan musik barat. Begitu pula dengan lagu seremonial yang dilakukan oleh suku Kaluli di Papua misalnya, tidak akan sesuai untuk dikaji dalam parameter musik barat, tanpa terlebih dahulu memahami hubungan dimensi sosial musik tersebut dalam natur masyarakatnya.

Dalam dunia akademik musik dimana ilmu yang diterapkan dalam membuat dan mengapresiasi musik; yang definisinya menjadi kian beragam dan kaya, tentunya hal ini dapat menjadi tantangan tersendiri. Selain dituntut untuk menguasai seperangkat keahlian teknis yang diperlukan dalam membuat karya, mengapresiasi musik, dan memahami proses historis dari musik yang didalami, mahasiswa juga diarahkan untuk melihat sisi keragaman musik yang kian heterogen.

Apalagi dalam pengertian pergeseran paradigma kesenian dimana etika, standar dan kriteria yang dipahami dan diajarkan dalam sejarah musik barat justru seringnya berujung pada penyangkalan dari kriteria-kriteria itu sendiri, bagaimana idealnya sebuah institusi musik menempatkan dirinya dalam perkembangan masa yang begitu cepat bagi perubahan bentuk-bentuk musik?

Dalam sejarah musik klasik atau “musik seni” dalam istilah Bambang Sugiharto dalam bukunya Untuk Apa Seni, awal abad ke-20 merupakan salah satu masa yang sangat menentukan dalam menentukan arah perkembangan musik di barat. Revolusi industri, pemikiran-pemikiran baru dalam ilmu filsafat dan sosial ikut menjadi faktor perkembangan kesenian pada umumnya.

Dapat kita temukan nafas gerakan nasionalisme dan identitas kebangsaan dalam gerakan French Impressionisme atau perkembangan Ragtime di Amerika misalnya. Aliran Expressionisme dalam musik, yang diperkenalkan oleh Schoenberg juga banyak dipengaruhi oleh gerakan seni rupa yang berkembang di Eropa, yang menolak keindahan konvensional berserta kenyamanan subyeknya. Aliran yang lebih mementingkan proses penggalian tafsir yang apa adanya ini, tidak lagi mengindahkan kaidah dalam konsonan maupun disonan.

Register dan jangkauan dinamika yang ekstrim, dan atonalitas menjadi bahasa yang lazim dipakai untuk memperkuat makna dari musik tersebut. Namun kedua contoh ini hanya mewakili sebagian kecil dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam musik klasik di awal abad lalu. Sebuah evolusi dalam tradisi musik barat (saja) yang dirangkum dalam kurun waktu kurang dari 60 tahun ini saja menunjukkan betapa luar biasa cepatnya abad ke-20 membawa peradaban manusia ke tingkatan yang berbeda dari segi faham yang bersifat ideologis dalam berkesenian.

Maka daftar poin-poin apresiasi yang idealnya diusung dalam tradisi pembelajaran berkesenian musik pada sebuah institusi kesenian, bagaikan tiada habisnya apabila disandingkan dengan perkembangan dalam dunia musik sekarang. Memang terdapat institusi yang lebih mementingkan proses instan; bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi semata tanpa melihat perlunya bagi siswa untuk mempunyai pandangan yang berkualitas akan apresiasi dan keragaman musik. Apabila ditinjau dari sudut pandang musik populer hal ini tentu tidak bisa disalahkan.

Namun bagaimana halnya dengan institusi yang menekankan pelestarian dan pengembangan nilai-nilai kesenian dari barat seperti dalam kurikulum musik klasik atau jazz misalnya, apakah waktu yang tersedia dalam proses pendalaman musik di tingkat pendidikan tinggi sudah mencukupi untuk mempelajari kompleksitas dan keragaman musik? Belum lagi untuk mendalami kebutuhan teknis yang prosesnya membutuhkan repetisi dan waktu untuk mengintegrasikan proses kognitif dalam pembelajaran instrumen misalnya.

Sebelum berusaha mengaplikasikan seluruh metode pemahaman apresiasi dan proses pembelajaran musik,  kiranya perlu terlebih dulu dipahami tujuan dari institusi, dan apa posisinya dalam membawa misi berkesenian di masyarakat. Institusi yang membawa nilai kesenian tradisi dan misi pelestarian yang berada dalam dimensi sosialnya sendiri, dan terhubung langsung dengan sejarah dan proses pembentukannya, tentunya berada dalam posisi yang lebih menguntungkan. Namun apabila institusi tersebut mengajarkan kesenian musik barat seperti musik seni (klasik) dan jazz, tentu diperlukan pendekatan khusus yang membuat pengajaran tersebut tetap relevan.

Selain harus memahami dan mempelajari tradisi asing yang membutuhkan waktu dan dedikasi agar sepenuhnya dapat melebur dengan tradisi musik tersebut, mahasiswa masih tetap harus memahami perkembangan-perkembangan terbaru dalam musik terkait, dan pada saat bersamaan dituntut untuk menjadi orisinal dalam berkarya dan berekspresi. Hal-hal ini sudah laiknya menjadi tuntutan umum dalam menyelesaikan pendidikan tinggi musik di Indonesia. Tentu resiko yang umumnya timbul adalah kurangnya kedalaman yang didapatkan dari hasil karya akhir, yang proses pembuatannya bisa dibilang cukup dipaksakan, apabila kriteria dan parameter penilaian dianggap perlu mencakup semua elemen dari hal-hal yang disebutkan diatas.

Karya akhir pun seringkali masih terbilang dangkal dalam hal orisinalitas karya yang disebabkan oleh miskinnya karakter dan bercampurnya elemen-elemen yang tidak menyatu dengan sempurna. Musik-musik barat yang umumnya masuk dalam kebudayaan kita tanpa melalui proses evolusi, seleksi dan discovery, membuat kita dari awal selalu menerima hasil yang sudah jadi. Entah karena kita konsumen yang begitu setia atau satu dan lain hal sehingga selama ini kita selalu sibuk melestarikan nilai-nilai tersebut dengan giatnya, tanpa berusaha memahami posisi dalam konteks tersebut. Dalam hal ini parameter yang digunakan dalam mengukur kadar orisinalitas pun semakin sulit untuk dirumuskan.

Tantangan dalam mengedepankan orisinalitas dalam tren musik yang selalu berubah, idealnya membuat kita semakin menggali identitas kesenian yang kita miliki. Identitas yang dihasilkan, dan selalu berproses tanpa henti ini tidak lepas dari proses-proses interpretasi. Mengamati interpretasi baru yang lahir dari sintesis musik luar, baik musik populer maupun musik klasik atau jazz, dari perspektif masyarakat kita tentunya masih menarik untuk dikaji lebih lanjut. Campuran interpretasi dari beragam pengaruh teks-teks kebudayaan ini, dalam pembahasan musik dapat dilihat sebagai kumpulan ‘cangkokan’ dan ‘sisipan’ yang akan berpengaruh kepada kerangka keseluruhan. Maka bisa ditekankan disini bahwa justru dalam proses pembentukannya, ‘tenunan’ inilah yang kerap menghasilkan sintesis yang unik.

Dalam musik jazz, kekhasan interpretasi gaya yang timbul dari beragam bangsa non-Amerika sudah sering bisa ditemukan. Tentunya makna istilah ‘jazz jepang’ atau ‘jazz gaya eropa’ sudah tidak asing lagi bagi penggemar musik jazz. Dalam melihat fenomena ini seharusnya memang ada kekhasan interpretasi dari jazz Indonesia. Pastinya terdapat kekhasan dari cara kita membaca, menginterpretasikan dan mengolah kebudayaan tersebut (jazz), yang timbul melalui latar ‘tenunan’ kebudayaan kita yang mempunyai diversifikasi keragaman yang sangat besar.

Bertolak belakang dengan hal tersebut, tanda-tanda yang terdapat dalam tenunan interpretasi dalam beberapa kasus, juga bisa ditemukan sudah sangat samar dan hampir tidak teridentifikasi lagi. Sehingga apabila saya boleh memprediksi bahwa pada generasi-generasi mendatang, percampuran ini akan terjadi semakin subtle sehingga faktor-faktor pengaruh ‘teks’ yang membentuknya sudah tidak terdeteksi lagi. Bahkan bisa jadi nantinya kita mulai bisa menembus sekat-sekat interpretasi yang selama ini dimitoskan.

Kiranya perlu disadari bahwa dalam proses kait-mengait budaya, percampuran dalam pembicaraan identitas ini kerap menunjukkan bahwa setiap interpretasi dari teks kebudayaan tidak selalu mempunyai batas-batas yang jelas. Seperti dalam pengertian Dick Hartoko mengenai ‘Kitab Kebudayaan’, bahwa ‘setiap teks senantiasa berada dalam jejaring teks lain yang luas, terdiri dari beragam genre, yang batasnya bocor disana-sini.’; hasil dari sintesis-sintesis kebudayaan yang terlihat, dan dapat terukur oleh mata kita hanya merupakan sesuatu yang mengalir begitu saja.

Tentunya kemampuan untuk menganalisa, mendokumentasikan dan mengkaji karya musik akan semakin berpengaruh kepada kemampuan mengidentifikasi ‘tenunan’ tersebut dan mengarsipkannya dengan tepat; sehingga aset dari segala output karya musik tersebut kelak dapat digunakan sebagai fondasi yang mengacu kepada keragaman interpretasi kesenian dari bangsa, yang terdiri dari sekian banyak suku dan bahasa. Meskipun interpretasi kita terhadap musik barat berasal dari suatu tradisi pemahaman yang bagaikan tercerabut dari akarnya, namun kiranya tetap menghasilkan sebuah sintesis budaya unik yang saling jalin-menjalin dengan sendirinya di dalam sistim naratif yang terbuka. Disinilah peran ulasan, pengkajian, dan pengarsipan atas karya musik masih banyak diperlukan dalam rangka pembentukan ekosistim kesenian yang saling mendukung dan berkaitan satu sama lain.

Kurun waktu empat tahun yang umumnya dibutuhkan untuk mendapatkan gelar sarjana musik terhitung singkat, apabila kita melihat luasnya subyek dan pemahaman mengenai ragam diversifikasi musik dunia. Namun tetap dalam hal ini kita masih bergantung kepada institusi musik sebagai sumber yang mampu memberikan fondasi dasar keahlian, apresiasi dan pengetahuan yang dibutuhkan siswa sebagai landasan ke jenjang apresiasi berikutnya.

Masalah identitas kesenian di Indonesia memang sejatinya tidak pernah simpel, apalagi selama ini kita selalu mendapatkan bentuk yang sudah ‘jadi’, tanpa harus bersusah payah melalui tahapan proses-proses evolusinya. Faham dan tradisi berkesenian (fine arts) dari luar memang perlu diajarkan secara bertanggung jawab, tapi pluralisme dalam fenomena musik-musik tersebut juga hendaknya disikapi dengan lebih dewasa. Institusi musik umumnya memang tidak mampu mengimbangi perubahan tren dari segi ilmu yang diajarkan, namun institusi diperlukan untuk menjadi pihak yang terlibat langsung dalam perubahan-perubahan tersebut.

Dalam era sharing economy ini kita mengalami dinamika informasi yang lebih cepat, oleh karena itu memerlukan antisipasi dan keterlibatan langsung dengan subyek-subyek baru dalam seni musik yang meskipun perkembangan evolusinya bisa diperdebatkan, namun akses akan keragamannya tetaplah suatu hal yang patut disyukuri.

Profil penulis:
Karirnya di musik merentang antara proyek Tao Kombo Collective Messkeepers yang eklektik, sebagai session guitar untuk Sandhy Sondoro dan Rieka Roslan, hingga proyek eksperimental dalam Aksan Sjuman’s Comittee of The Fest. Album solonya Silver is The Color of The Blues mendapat ulasan positif pada 2014 lalu. Sejak 2006 aktif mengajar musik, antara lain di Institut Musik Daya Indonesia, Institut Musik Indonesia,dan D’jazz Music School. Dion Janapria merupakan alumni dari Hogeschool voor de Kunsten Utrecht, Belanda, untuk jurusan Music and Arts Education. Sekarang mengajar di Universitas Pelita Harapan, Tangerang untuk jazz major guitar, konsep improvisasi jazz dan sejarah jazz.