Bijak dan Antisipasi, Demi Eksistensi!

03 Agustus 2016 15:56
-
Penulis: Dzulfikri Putra Malawi
Foto: venturebeat / MM360
Editor: Dzulfikri Putra Malawi

 

Bukan perkara mudah bagi “pegawai band” (sebutan untuk mereka yang berkarier lewat sebuah grup musik) untuk bisa tetap berdiri gagah dan bersuara lantang di tangan dan telinga para pendengarnya. Eksistensnya kini telah dibatasi dengan moda hidup modern yang secara perlahan menutup akses penjualan fisik dari album mereka. “Menutup” mungkin itu pola pemikiran ortodok mereka yang justru membentengkan kreasi mereka untuk meleburkan zaman dengan kreatifitasnya. 

Dari dulu sampai sekarang zaman memang selalu berubah dan berkembang. Secara tidak langsung moda kehidupan pun berubah. Jikalau membicarakan moda sebuah kehidupan (selayang pandang: penulis menggunakan istilah moda yang seing dipakai dalam istilah transportasi karena maknanya yang berarti jenis-jenis sarana yang tersedia untuk perjalanan. Perjalanan dalam hal ini penulis analogikan sebagai perjalananara "pegawai band")  rasanya terlalu luas dan mungkin Anda tidak akan terfokus dengan apa yang penulis maksud melalui artikel ini.

Ya, Anda tentu mengalami zaman ketika piringan hitam sampai kepingan cd melengkapi koleksi lemari Anda sebagai bentuk apresiasi terhadap buah karya mereka, para musisi yang Anda gemari.  Bisa jadi Anda memang sengaja membeli lantaran suka dengan design covernya. Padahal dari selera musik, sama sekali tidak masuk di telinga Anda. Berbagai motif memang sudah menjadi hal yang lumrah dari sebuah bentuk apresiasi. Namun ada yang perlu di garis bawahi, apreasi tidaklah hanya sekedar sebuah daya beli seseorang terhadap suatu karya. Nyatanya saya sebagai pelaku ("pegawai band ") cukup senang bila ada yang mengomentari karya saya, hanya sebatas mengomentari itu juga sebuah apresiasi bagi saya.
 
Saya jadi teringat satu peristiwa yang saya alami ketika sedang pergi bersama seorang musisi. Saat itu, ada seorang pria yang masuk ke dalam toko musik dan mencari band kesukaannya. Sayangnya ia hanya sanggup untuk menyentuh fisik dari cd tersebut. Namun lantaran uangnya hanya cukup untuk membeli kopi dan roti potong ia hanya bisa tersenyum dan mengagumi fisik cd tersebut, lalu diletakkannya kembali.

Tanpa band tersebut sadari, dari hasil rekapitulasi penjualan pria tersebut tidak masuk dalam daftar orang yang “mengapresasi” dalam bentuk daya beli. Band tersebut hanya melihat dari omzet penjualan yang di laporkan toko kaset/cd itu. Tanpa mereka ketahui orang-orang yang ingin mengapresiasi namun tidak mampu membeli lantaran harga jual yang tidak terjangkau bagi sebagian orang. Muncullah pedagang kaki lima yang menawarkan produk yang sama persis namun membandrol harga yang menjangkau kalangan orang-orang yang disinggung penulis. Fenomena ini lebih dikenal dengan pembajakan.

Pembajakan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun masih menjadi musuh utama para "pegawai band". Hampir dalam setiap kesempatan saat mereka manggung - bahkan tertulis pula dalam produknya - yang meneriakkan kata “STOP PEMBAJAKAN” tidak berhasil membendung serangan dari para produsen-produsen pengganda ilegal tersebut. Para "pegawai band" pun akhirnya merugi. Bagi mereka karya yang berbentuk produk cd seharusnya bisa menghidupi mereka, namun mereka hanya bisa mengelus dada dan mungkin berkata “belum rejeki kita,” dan yang lebih parahnya mereka bisa sangat sakit hati karena para pendengarnya menghianati karya mereka.

Menghianati? Apakah ada yang salah denga paradigma kami para "pegawai band"? Sepertinya demikian, para "pegawai band" juga larut dalam pola pemikiran kapitalis yang hanya ingin mengambil keuntungan dari apa yang diproduksi.

Mungkin kami lupa dengan kodrat kami sebagai penghibur masyarakat, sebagai pekerja seni yang secara harfiah barkarya dengan hati. Mungkin kami juga telah terlena dengan genggaman uang ratusan ribu yang secara singkat bisa didapat dan bisa digunakan untuk foya-foya? Itulah alasannya muncul sebuah gap antara idealisme dan komerialisme. Sebuah pola yang sama sekali bersebrangan dan bertentangan. Faktornya sederhana saja, para "pegawai band" juga sama, layaknya sebuah perusahaan yang sedang memproduksi barangnya. Mereka masuk ke dalam anggaran yang dialokasikan untuk rekaman, promosi, dan jualan.

Memang tidak bisa disalahkan juga, "pegawai band" pun juga manusia yang memiliki berbagai macam kebutuhan dan moda kehidupan. Kecerdasan dan kepiawaian dalam mengikuti moda kehidupan lah yang seharusnya diasah. zaman yang berkembang dan tradisi yang kian melesat mengikuti modanya harus dicermati dan dijadikan sebuah peluang untuk memajukan hasil karya yang mampu mendekatkan diri kepada masyarakat umum, tidak hanya sebuah golongan ber-uang dan  tidak hanya sekedar kelompok tertentu yang bisa mengakses sebuah karya. Ini hanyalah semacam sistem yang diciptakan untuk memodifikasi antara sebuah perusahaan yang mencari untung dengan sebuah moda kehidupan yang berkembang sesuai zamannya.

Dulu sebuah proses rekaman harus melalui beragam proses produksi yang serba analog dan hasil karyanya pun berupa fisik (piringan hitam dan kaset) dan memerlukan biaya yang besar. Sekarang, era digital telah merambah dunia musik. Saat proses rekaman tidak banyak menyita waktu dan biaya produksi pun tidak sebanyak saat produksi analog. Hasil karyanya pun berupa data yang sangat mudah untuk diletakkan di berbagai media (cd, flashdisk, mp3 player, ipod, dll).

Apalagi dengan adanya internet yang memudahkan masyarakat untuk mengakses data-data termasuk musik di dalamnya. Para pembajak justru bukan dari produsen yang ingin mengambil keuntungan dari produksi aslinya. Justru kini pembajakan dilakukan sendiri oleh para pendengar dan penggemar setianya. Fenomena ini justru membuat sakit hati para "pegawai band" semakin berkali-kali lipat.

Bijak dan antisipasi, saya teringat band asal Bandung “KOIL” yang disebut-sebut sebagai band pertama di Indonesia yang menggunakan fasilitas file sharing dalam internet (sumber: Radio Elshinta), mereka mempersilahkan user untuk mengunduh lagunya. Otong sang vokalis KOIL, yang sempat saya wawancarai beberapa tahun lalu saat saya baru bekerja di sebuah majalah musik mengatakan itu merupakan upaya yang sportif bagi mereka karena tidak ada kebohongan dan tidak ada tradisi menyolong karya. Mereka tetap menjual karyanya dalam bentuk fisik, “toh setelah mereka unduh ada juga yang mau punya cd nya untuk koleksi mereka, jadi kita tetap bisa jualan,” ujar Otong.

Beberapa tahun belakangan ini juga yesnowave music, sebuah netlabel melakukan hal yang sama, mereka mengunggah semua lagu talent yang sedang mereka promosikan untuk bisa diunduh semua user. “Ini adalah aksi ‘gift economy’, sebuah eksperimentasi dalam menerapkan model musik gratis kepada pecinta musik di dunia yang kapitalistik ini. Aksi ini bukanlah gagasan menghancurkan industri musik yang sudah mapan ratusan tahun, tetapi lebih pada tawaran alternatif dalam mendistribusikan karya musik secara gratis.” Kata yesnowave music dikutip dari situsnya.

Hal yang luar biasa justru terjadi pada mereka, ada ribuan orang yang mengunduh lagu mereka secara gratis, tetapi ada pula ribuan orang yang menginginkan album fisik mereka lantaran tertarik dengan pengemasan dan visualnya, misalnya tertarik dengan packagingnya yang lucu, bonus T-Shirt, stiker, dll. Tantangannya sekarang justru bukan lagi pada berapa ribu keping cd yang akan laku di pasaran, tetapi masyarakat menginginkan sebuah karya yang total, total dalam pembuatan dan total dalam memasarkan. Berbagai macam hambatan yang sudah terjadi bisa diatasi dengan strategi, ya dengan kata lain hambatan seni harus dijawab dengan strategi seni, bukan strategi komersil dan kapitalis. (Fik)

*) Artikel ini pernah dimuat dalam blog pribadi tahun 2011. Lima tahun berjalan, keadaan masih tetap sama.