Glenn Fredly Produseri Album Religi Hidayah

24 Juni 2016 14:57
-
Penulis: Dzulfikri Putra Malawi
Foto: Glenn Fredly saat difoto Media Indonesia usai konferensi pers peluncuran album
Editor:

 

PENYANYI yang dikenal sebagai pelantun lagu-lagu romantis Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, 40, kembali merilis album cinta. Namun, bukan cinta yang mendayu-dayu, melainkan dalam bentuk hubungan antarmanusia secara spiritual.

Tuhan mahabesar, Tuhan tak perlu dibela, begitulah penggalan lirik yang dinyanyikan dengan penuh energi saat perilisan album religi bertajuk Hidayah, Kamis (2/6).

Selain dengan musisi ternama, seperti Rieka Roeslan, Dian Pramana Poetra, Iga Mawarni, dan Dian HP, Glenn juga berkolaborasi dengan musisi baru yang belum pernah diajak kerja sama olehnya, seperti Kamila, KunoKini, Havis Della MC, Teddy Adhitya, hingga The Archipelago Singers.

Lagu yang bersumber dari tulisan Gus Dur ini begitu istimewa karena diproduseri dirinya yang merupakan musikus nonmuslim.

"Ya, Tuhan tak perlu dibela. Ini sebuah kontemplasi dari sumber tulisan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Tahun 1982. Ia menulis karena sudah melihat agama direduksi untuk kepentingan politik dan lain-lain saat itu," kata Glenn kepada Media Indonesia sesaat sebelum manggung.

Dia menambahkan sesederhana itulah dia mencoba menerjemahkan bersama teman-teman KunoKini dan Havis.

"Yang kita butuhkan hanyalah bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri. Ketika itu sudah, apa yang perlu ditakuti? Yang paling penting adalah memahami nilai dari sebuah agama. Sumbernya adalah kebaikan dan cinta," terangnya.

Banyak yang beranggapan album ini menjadi sangat sensitif karena diproduseri musikus pemeluk agama Kristen.

Glenn menjawab santai, baginya yang berprofesi sebagai musikus harus berdiri di atas semua golongan, di atas semua apa yang dirinya lihat.

Sebagai bentuk keragaman, Glenn juga mempersembahkan genre musik yang beragam mulai dari pop, jazz, hiphop, dance, soul, hingga pop rock.

"Saya tidak terlalu pusing, seperti kata Gus Dur 'gitu aja ko repot'. Saya hasilkan karya, Ini adalah fungsi seni. Berkesenian menjadi begitu penting untuk menjawab kebuntuan-kebuntuan yang ada di masyarakat dan menjadi alat komunikasi kebaikan. Banyak konflik dari Sabang sampai Merauke latar belakangnya adalah karena agama. Saya melihat album ini sebagai kegelisahan yang dituangkan dalam bentuk nyata. Musik sebagai kekuatan universal," ungkapnya.

Keberagaman

Baginya momentum Ramadan sekaligus untuk merayakan keberagaman.

Ia ingin merayakan Islam rahmatan lil alamin yang ia kenal dan berharap bisa menjadi berkah untuk banyak orang tanpa latar belakang ras, agama, suku, dan antargolongan.

Album ini juga memberi contoh gotong royong yang menjadi filosofi Islam nusantara.

"Ini bukan semata-mata album Ramadan, tapi mudah-mudahan album ini menggambarkan keberagaman budaya Indonesia," tegasnya.

Tahun 2014, saat merilis film Cahaya dari Timur yang berlatar belakang konflik agama menjadi satu pembelajaran dirinya tentang konsep album ini.

Menurutnya, konsep album ini harus selalu dibalut dengan hal-hal yang berbicara soal Indonesia.

"Dari nenek moyang kita punya kekuatan untuk gotong royong. Saya sendiri besar dalam sebuah tradisi di mana berbicara keragaman itu penting. Kami tidak pernah bicara dengan tembok agama, apalagi bicara dengan kultur Maluku. Kalau menyambut Ramadan sama happy-nya menyambut Natal," pungkasnya.

(H-5)