Menyuarakan Keresahan

Penulis: Prita Daneswari, Fario Untung
Foto: Dzulfikri Putra Malawi

Menembus rimba dan belantara sendiri, Pasar bisa diciptakan, Membangun kota dan peradaban sendiri, Pasar bisa diciptakan. Penggalan refrain dari lagu Pasar Bisa Diciptakan yang terangkum dalam fragmen/cuplikan warna biru di album terbaru Efek Rumah Kaca (ERK), Sinestesia, baru saja dirilis akhir tahun lalu.

Album tersebut masih menjadi medium para personel band tersebut untuk menyuarakan problematika keadaan sosial masyarakat, yang kerap dibawa sejak dua album sebelumnya. Namun, kali ini trio Cholil Mahmud (gitar, vokal), Adrian Yunan Faisal (bas, vokal latar), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar) merilis dengan format yang berbeda. Durasi yang lebih panjang hingga kaya dengan instrumentasi musik. Tajuk Sinestesia pun menjadi korelasi yang saling mendukung dan semakin mematangkan materi-materi lagu di dalamnya.

Mulai musikalisasi, proses rekaman, hingga pengalaman sinestesia (merasakan metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indera lain). Kondisi itu dialami Adrian yang mengalami masalah pada penglihatannya.

Ketika dalam kondisi masih bisa sedikit merasakan hamparan cahaya, ia melihat dominan warna tertentu ketika mendengarkan dan menghayati lagu-lagu di album baru. Lantas, berbagai warna itu dijadikan identitas dari dua sampai tiga judul lagu yang terdapat di tiap warna.

"Album ini cukup unik untuk kami, tidak pernah melakukan proses ini di dua album sebelumnya. Kami membuat lagu rekaman tanpa workshop karena keterbatasan dan hambatan yang ada di internal kami. Semua lagu tertumpuk dalam puluhan layer instrumen di studio rekaman sejak 2010. Adrian mulai menjalankan sinestesianya setahun kemudian," kata Cholil mengawali perbincangan dengan Kotak Musik Media Indonesia, Kamis (21/1).

Pada lagu Sebelah Mata Adrian seperti menuangkan perasaan tentang penyakit yang perlahan-lahan mengikis kemampuan fisiknya. Membuatnya menjadi buta. Sayangnya, Adrian tidak turut hadir dalam wawancara dan penampilan di Kotak Musik hari itu karena kondisi kesehatannya. Namun, demikian semua bas di album Sinestesia mampu diselesaikan dengan baik olehnya.

"Terakhir Adrian rekaman lagu Merah. Dalam keadaan tertentu yang dianggap dirinya bisa tenang, dia bisa ikut. Tapi tidak bisa diprediksi. Apalagi untuk main di panggung, dia belum percaya diri. Karena tidak bisa lihat, jadi dia nembak nadanya suka meleset. Kalau di studio rekaman, kalau salah dia bisa ulangi. Akhirnya alhamdulillah semua basnya diisi Adrian," timpal Akbar.

Setelah sukses merilis album, mereka pun sukses menggelar konser tunggal di Teater Besar Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 13 Januari lalu. Terbukti, hanya dalam tempo hitungan hari setelah pemesanan dibuka via online, tiket terjual habis. "Bahkan kami harus membuat dua e-mail karena sudah tidak membalas sebanyak itu di hari yang sama," kata personel Pandai Besi yang turut membantu menyelenggarakan konser ini, Asra.

Sayangnya, konser hasil kolaborasi dengan Irwan Ahmett, seorang seniman videografer) itu, secara tersirat sebagai pertunjukan perpisahan sementara bagi Akbar dan Adrian untuk melepas kepergian Cholil ke Amerika dalam rangka menemani kuliah sang istri dan menjaga anak.

"Setelah rilis, akhirnya kami pikir ini perlu dimainkan, paling tidak sekali saja sebelum kondisi keluarga atau kehidupan sehari-hari memaksa kami untuk vakum. Kami cari orang untuk tim konser, lalu kami juga mulai membentuk tim latihan bagaimana memainkan materi-materi album baru, kami cari tambahan musisi, terutama gitaris yang memang album itu penuh dengan instrumen gitar," jelas Cholil.

Musikalisasi sinestesia memang terdengar begitu rumit untuk hanya dimainkan tiga orang. Tanpa workshop, mereka menyambungkan beberapa lagu yang mungkin sejenis atau mungkin sangat jauh untuk kemudian dekatkan. Bahkan Cholil mengaku tidak pernah tahu cara memainkannya saat di atas panggung.

Musik Sinematis

ERK yang merilis album perdana pada 2007 terbilang minim dalam berkarya. Kendati demikian, bukan berarti musik mereka tak berkualitas. "Kalau saya sendiri merasa lagu-lagu ERK sudah sinematis karena pola pembuatan lagunya itu membuat musik terlebih dahulu, baru lirik mengikuti arah musikalnya. Dari situ mungkin suasana sinematisnya terbangun. Benar-benar dicari kata mana yang tepat diletakkan di nada apa. Itu juga untuk mendukung suasana yang kami cari," terang Cholil.

Jeda waktu yang cukup lama antara album kedua (2008) hingga album berikutnya tidak memupuskan semangat mereka meski ditempa keadaan internal yang cukup berat bagi sebuah band. Kondisi kesehatan Adrian yang terus menurun ditambah Cholil yang saat itu hijrah ke Amerika untuk berkuliah.

Menurut Akbar, semangat itu tetap terjaga karena ingin memiliki album dengan gaya baru. Hal itu yang membuat semangat mereka tak kendur. "Ingin punya materi selanjutnya, ingin meneruskan karya, ingin menguak misteri apa lagi setelah dua album sebelumnya," aku Akbar.

Akbar sendiri mengaku belum pernah memakai durasi lagu yang sepanjang ini. Secara tegas mereka tidak memikirkan selera pasar harus dengan menit tertentu dalam mengonsumsi lagu. Akbar dan kawan-kawan hanya memikirkan bagaimana membuat jembatan antara beberapa musik yang tergabung dalam satu lagu agar halus dan pendengar tidak merasakan ada perpindahannya.

"Akhirnya ada dua sampai tiga lagu yang dimasukkan dalam satu fragmen warna. Kalau ide menggabungkan musik karena kami penggemar musik Indonesia lama. Dulu musik Indonesia variatif, ada masanya mereka bikin lagu 15 menit, 13 menit, jadi eksplorasinya sangat liar dan didukung juga oleh industri. Dirilis di toko kaset dan orang beli. Belakangan eksplorasi untuk soal durasi berkurang, kecuali di genre tertentu. Dari situ kami coba bawa semangatnya, sebuah hal yang lazim dilakukan dulu kami coba lagi sekarang," sambung Cholil.

Satu hal yang tak berbuah, ERK masih setia menyuarakan isu-isu sosial dan politik meski mereka mengaku bukan pribadi yang aktif berpolitik. Mereka sama seperti masyarakat lainnya, punya kegelisahan tersendiri soal isu ini.

Bagi Akbar, Sinestesia adalah keresahan masyarakat yang sedang mereka alami. Lantas bagaimana rencana mereka ke depan selepas kepergian sementara Cholil? Dan apakah Adrian akan kembali beraksi di atas panggung?

Temukan jawabannya dan nikmati penampilan mereka di Kotak Musik dalam aplikasi Media Indonesia. Unduh sekarang juga. (M-4)