Merawat Memori Kebaikan Toleransi

Penulis: Dzulfikri Putra Malawi
Foto: Permana PJ

Keberagaman dan toleransi menjadi inti album yang diproduserinya, termasuk kenangan-kenangan indah akan keberagaman agama.

Kumpulan tulisan Abdurrahman Wahid dalam Tuhan tidak Perlu Dibela menjadi kontemplasi di era modern dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Kumpulan tulisan itu menyoroti peran agama dalam masyarakat yang sedang mengalami berbagai proses perubahan politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Kumpulan tulisan Presiden ke-4 Indonesia itu menginspirasi album kolaborasi yang diproduseri Glenn Fredly. Sebanyak 10 lagu dipilih langsung pria bernama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo itu untuk mengisi album bertajuk Hidayah. Salah satunya lagu berjudul Tuhan tak Perlu Dibela yang terinspirasi dari tulisan Gus Dur pada 1981 yang menjadi pernyataan kuat merangkum pesan album itu.

Lagu itu merupakan kolaborasi Havis Della MC, KunoKini, Archipelago Choir, dan Indra Lesmana yang menyumbangkan denting piano. Kolaborasi ini menjadi gambaran keberagaman yang dilebur untuk membawa pesan yang bukan hanya berbicara islam sebagai sebuah agama.

"Tapi bagaimana nilai sebuah agama berbicara soal kemanusiaan dan perdamaian, progres kesejahteraan, dan keadilan. Substansi penting tersebut yang harus dibela di tengah masyarakat ini. Bukan hanya terjebak pada simbol-simbol yang akhirnya kita ikut tereduksi dan mempersempit sudut pandang masing-masing dan mulai dijustifikasi untuk seragam," ujar Glenn di Kantor Media Indonesia, Jakarta, Senin (20/6).

Sejak 2014, saat mengerjakan film Cahaya dari Timur: Beta Maluku bersama Angga Dwimas Sasongko yang berlatar belakang konflik agama, Glenn terpikir membuatnya dalam format musik. Dua tahun kemudian ide itu baru terlaksana dan didukung penuh teman-teman dekat dan musisi baru.

"Itu memang keinginan saya untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman musisi, ini bentuk bagaimana kita bisa bekerja sama. Saya sangat menikmati betul saat melihat respon teman-teman. Semua punya sukacita yang sama," ujarnya.

"Ada yang awalnya bingung saya membuat album Ramadan, tapi bagi saya itu biasa. Musik adalah bahasa universal, bisa membawa pesan dibawa di bulan yang baik (Ramadan) ini," sambungnya.

Album itu pun membangkitkan memorinya yang dibesarkan dalam keluarga yang menghargai keberagaman, baik di Jakarta maupun Maluku. Ia ingat saat kecil dibangunkan sahabat-sahabatnya untuk sahur. Bahkan ikut ke musala saat berbuka puasa meski hanya menjaga sandal saat sahabat-sahabatnya salat.

"Memori itu yang terus tertanam ke saya semenjak peristiwa Maluku tahun 1999. Banyak hal lain yang mengusik bicara tentang keberagaman dan kemanusiaan, seperti menjadi alarm natural yang lahir dan tidak saya buat-buat. Album ini saya ingin merawat dan menjaga memori keberagaman indah saat saya kecil, sesederhana itu," timpalnya.

Perdamaian

Musik rohani atau bukan, lanjutnya, tetap memiliki semangat yang lahir dari kejujuran berkarya. Setiap orang memiliki naluri merawat bila berbicara perdamaian serta cinta kasih bagi sesama dalam berbagai bahasa dan bentuk.

"Saya melihat, menyikapi, dan merespons hal-hal yang berhubungan dengan keberagamaan saat ini. Momentum ini saya pergunakan sebagai kekuatan untuk melahirkan album ini. Album Hidayah sebagai bagian dari apa yang menjadi pemikiran serta proses spiritual diri sendiri dan kegelisahan di dalamnya lalu dikerjakan dengan teman-teman yang juga memiliki kegelisahan yang sama. Ramadan sebagai momen kontemplasi," paparnya.

Glenn mengaku tidak ambil pusing akan ketakutan-ketakutan atribusi karena dirinya bukan muslim. Tidak mengherankan bila ia menilai album ini sebagai album toleransi.

Apalagi, Indonesia berasaskan ke-binekaan dan Pancasila. Seni, kata Glenn, berperan membentuk masyarakat sesuai dengan nilai-nilai itu.

"Saya semakin yakin era modern membentuk manusia semakin pragmatis, tapi di tengah pragmatis yang terjadi, kewarasan nalar sebagai manusia itu penting. Saat saya mengerjakan album ini adalah kecintaan saya terhadap apa yang saya lihat dan tahu tentang Indonesia. Saya meyakini ini bukan hanya bicara tentang adanya sebuah negara, tapi ini bicara soal identitas," jelasnya.

Di sisi lain, album ini juga menjadi pembuktikan bagaimana anak muda yang merawat memori kebaikan toleransi. Glenn pun meyakini hal itu, saat anak muda dengan kreativitasnya bergerak secara kolektif dan memanfaatkan seni untuk kemanusiaan dan perdamaian. Pada akhirnya, itu memutus mata rantai dendam ke generasi selanjutnya.

Tidak hanya itu, album ini menjadi momentum yang pas bagi RPM Records, label yang bekerja sama dengan Glenn untuk distribusi. Awalnya Glenn hanya mau rilis enam lagu yang diproduserinya. "Namun, mereka bilang sayang kalau cuma enam lagu dan mereka mengajukan empat lagu lain, tapi saya bilang please saya kurasi dulu ya. Kita duduk kerja sama, dan ternyata bisa," lanjutnya.

Lalu bagaimana proses kreatif di balik pembuatan album ini dan apakah langkah ini menjadi sebuah catatan penting dari karier bermusik seorang Glenn? Simak wawancara lengkapnya, hanya di Kotak Musik. Unduh aplikasi Media Indonesia sekarang juga di Google Play Store dan App Store. (M-4)