Musik Imajinatif

O merupakan lingkaran penuh. Seperti masa lalu, sekarang, dan masa depan sebuah kehidupan.

 

Tak ada musik bertensi kencang seperti electronic dance music (EDM) yang saat ini banyak diperdengarkan. Ritmis psychedelic rock lebih mendominasi dengan hentakan-hentakan yang terkadang terdengar tidak dalam tempo tepat. Lirik-lirik yang disenandungkan begitu puitis dengan alunan warna vokal seperti Kylie Kili, Amy Winehouse, dan Lana Del Rey.

 

Karyakarya dari duo bernama Kimokal ini terasa begitu santai dan semakin tenggelam serta memancing imajinasi jika dinikmati. Sang vokalis, Kalulla Harsyntha, awalnya enggan menjajal musik elektronik. Dua tahun lalu, Kalulla masih aktif siaran dan bermain di band beraliran Emo, hingga ia menerima ajakan Rizky Ramadhan (Kimo) yang sudah konsisten membuat musik-musik elektronik. Nuansa musik elektronik klasik mulai era 1960-an hingga trip hop yang menjamur di era 1990-an menjadi referensi Kimo berkarya. Di tahun itu juga akhirnya eksplorasi mereka berhasil merilis single bertajuk Under Your Spell.

 

Awal 2016, tepatnya 16 Januari, akhirnya mereka berhasil merampungkan album bertajuk O berisi 10 lagu berbahasa Inggris di bawah label rekaman Double Deer. Tak tanggung-tanggung, mereka juga memasarkan album ini ke Singapura, Malaysia, Jepang, hingga Inggris. "Album ini terjadi karena kami dipaksa situasi. Waktu itu dapat tawaran manggung di Institut Franais d'Indonsie (IFI), Jakarta, ya sekalian aja buat launching Album. Kebetulan sudah ada Double Deer yang saya dirikan dengan beberapa teman, akhirnya record labelnya di sini saja," ungkap Kimo kepada Media Indonesia beberapa waktu lalu. Judul yang diambil dari diksi lingkaran penuh itu merepresentasikan masa lalu, sekarang, dan masa depan dari sebuah kehidupan berkarya. Mereka memang tidak muluk-muluk untuk memimpikan sebuah karya yang dapat diapresiasi orang.

 

Kolaborasi

 

Keberkahan dan keberuntungan nyata memihak mereka. Pasca-album dirilis, mereka berhasil berkolaborasi dengan beberapa merek ternama. Ribuan orang juga mengikuti aktivitas mereka di media sosial. Namun, Kimo mangaku faktor keberuntungan itu tidak akan terjadi tanpa kerja keras mereka berdua yang justru menjadi fokus berkarya. MINGGU, 29 MEI 2016 HIBURAN 7 INI bukan tentang kekerasan, apalagi penyiksaan.

 

Ini kisah tentang Kunta Kinte, rekam sejarah perbudakan di Amerika. Miniseri berjudul Roots mengisahkan perdagangan budak yang dialami Kunta yang diperankan Malachi Kirby. Ia diculik dari kampung halamannya untuk dibawa dan dijual kepada pemilik perkebunan di Annapolis, Maryland, Amerika Serikat. Roots ialah versi modern dari miniseri klasik televisi peraih penghargaan pada 1977 berdasarkan novel laris karya Alex Haley pada 1976. Tayangan itu diproduksi A+E Studios dan Wolper Organisation, perusahaan yang memproduksi miniseri versi orisinalnya yang mendapat rating tertinggi kedua untuk episode terakhirnya dalam sejarah TV sejak 1977.

 

Berlatar Afrika pada 1750, istri Juffre, Omoro Kinte melahirkan anak pertama bernama Kunta. Sebagai keluarga Kinte yang terpandang, Kunta diajari kebiasaan dan tradisi Mandinka sebagai bekal menjadi anggota kavaleri raja. Kunta juga belajar matematika, sastra, dan geografi . Ia bermimpi kuliah di universitas dan menjadi sarjana. Kunta jatuh cinta pada seorang gadis budak milik Koros, lawan keluarga Mandinka. Setelah menjalani ritual yang sangat keras dalam pelatihan prajurit, Kunta dikhianati Koros dan diserahkan kepada pedagang budak Inggris. Pada 1767, bersama 140 budak lainnya, Kunta dikirim sebagai muatan kapal ke Amerika. Ia hampir tidak selamat akibat penyakit sampar. Kunta gagal memimpin pemberontakan yang mengakibatkan banyak kematian.

 

Di Annapolis, Maryland, Kunta dijual kepada John Waller, pemilik perkebunan kaya. Ia diberi nama Toby oleh Elizabeth, istri Waller. Kunta mencoba melarikan diri. Beruntung ia diselamatkan penasihat bijak Fiddier, musikus di perkebunan tersebut. Sepanjang tayangan serial ini, kita dapat menyaksikan tahap kehidupan Kunta Kinte, sejak remaja hingga dewasa, menjadi ayah hingga menjadi kakek, mengikuti warisannya melewati Perang Saudara. Adegan yang cukup menguras tangis ialah saat Kunta dipaksa mengakui namanya Toby. Sampai ia harus terbaring lemas akibat cambukan. Kirby mengaku adegan itu membuatnya sadar akan kondisi para budak yang dilucuti identitasnya. "Saya bisa merasakan penderitaan mereka. Bahkan saya masih menangis selama 15 menit, padahal mereka sudah berhenti mengambil gambar.

 

Saya menangis karena saya dapat merasakan penderitaan mereka. Penderitaan identitas diri direnggut dari dirinya," ujar Kirby sebagaimana disitat The Guardian. Kehadiran Roots di Indonesia juga sekaligus kampanye antiperbudakan #BuyOutSlavery. Tayangan Roots diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perbudakan modern yang kini masih sering terjadi. (Zuq/Try/M-5) Musik Imajinatif FILM SERIAL MI/TAMPAN DESTAWAN MI/TAMPAN DESTAWAN MI/JOSHUA YERICKO DOK. FILM PRENJAK DOK. HISTORY O merupakan lingkaran penuh. Seperti masa lalu, sekarang, dan masa depan sebuah kehidupan.

 

"Patokan saya ketika brand besar mau berkolaborasi dengan kami, ini membuktikan kalau musik Kimokal punya potensi pasar yang juga besar. Sudah bias ketika membicarakan major dan independent. Di sana saya berpikir kalau apa yang kami kerjakan berhasil," tutur Kallula. Langkah serius ini juga dibuktikan dengan memutuskan proses masering di Metropolis, London, Inggris oleh Andy Baldwin. Mereka memilih Baldwin lantaran menyukai hasilnya. Sejumlah nama besar seperti Lana Del Rey, Duran-Duran, dan The Clash pernah ditangani Baldwin. Hal ini membuktikan musik elektronik yang ditawarkan Kimokal tidak hanya sebatas pada komunitas semata, tapi juga mampu menembus pasar yang lebih lebar. "Awalnya kami tidak mau buka mata selebar-lebarnya. Karena pasarnya sudah mulai kebentuk, akhirnya mau enggak mau harus pelajarin semua dan buka mata lebar-lebar," sambung Kallula. Akhirnya album ini membuat mereka berdua harus mampu memperdalam skill yang dimiliki.

 

Kimo bahkan baru les piano dan Kallula mengambil les vokal setelah album keluar sebagai bentuk pertangungjawaban karya. "Kami berdua tidak sama sekali mulukmuluk, saya develop dulu baru research. Ini konyol tapi mampu membuktikan karya kami. Kami tidak menutup diri untuk mendengarkan musik yang lain. Album ini blessing tapi ada tantangannya karena akan ada album selanjutnya yang harus dibuat lebih bagus lagi. Ritual dan cara atau metodenya tidak akan berubah," sambung Kimo. Di tengah-tengah kelesuan musik elektronik (selain EDM) di Indonesia, Kimokal menjadi penyegaran yang bisa menghidupkan kembali animo pendengar dan musisinya. "Kami ingin orang suka musik Kimokal bukan karena personelnya tapi karena pengalaman untuk menikmati musik ini.

 

Visual sudah menjadi support system. Musik elektronik tidak terbatas dengan electronik stuff, ingin ada sound organik di album selanjutnya," harap Kimo. Saksikan wawancara selengkapnya dan pengalaman menikmati musik mereka di Kotak Musik. Dapatkan fi tur Kotak Musik di aplikasi Media Indonesia. Unduh aplikasinya sekarang juga di Apple Store dan Google Play Store. (Fik/M-5)