Musik yang Meresonansi

Penulis: dzulfikri
Foto: Dzulfikri Putra Malawi

Lebih dari sekadar komposisi musik dan visual. Pemaknaan hidup dan kepedulian terhadap lingkungan memberikan arti tersendiri bagi penikmat musik mereka.

Kawasan tambang di Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, dan tambang batu bara di Kalimantan menjadi dua lokasi yang disambangi penari Indonesia Al Imran Karim. Ia mengekspresikan tarian putus asa dari sosok penambang. Sepenggal kisah penambang itu terangkum dalam videoklip karya terbaru Filastine bertajuk The Miner yang dirilis akhir Maret lalu. The Miner merupakan bagian dari empat seri video yang menunjukkan empat profesi berbeda.

Para pekerja tersebut mengilustrasikan pekerjaannya melalui tarian. Dari gerakannya kita bisa melihat saat mereka lelah dan menyerah pada pekerjaan. "Sebenarnya sangat berkaitan erat dengan kondisi alami manusia dan lingkungan di sekitarnya. Semacam tarian penolakan untuk melakukan sesuatu yang tidak disukai," ungkap Grey Filastine saat berbincang dengan Kotak Musik di Kantor Media Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bersama musikus asal Malang, Nova Ruth Setyaningtyas, yang bertemu sejak 2007 di Jakarta, pria asal Los Angeles, Amerika Serikat, yang menetap di Barcelona hingga kini memutuskan untuk hidup dan berkarya bersama lewat musik. Putri gitaris legendaris Indonesia, Totok Tewel, itu sebelumnya bergabung bersama kelompok duo Twin Sista di Yog yakarta pada era 90'an. "Setelah bertemu di Jakarta dalam sebuah acara, kami bertemu lagi di Yogyakarta. Kami berdua menyadari memiliki ide yang sama dalam memandang dunia melalui musik.

Nova tidak hanya seorang rapper yang mendalami musik indie. Ia juga penulis dan penyanyi lagu genre folk. Sementara itu, saya mendengarkan musik elektrik. Lalu saya berpikir, mungkin akan keren jika dua genre ini digabungkan. Namun lebih pada fi losofi hidup yang membuat kami cocok," sambung Grey. Lebih dari 300 panggung di lima benua sudah mereka sambangi. Tentunya dalam setiap tur mereka membatasi penggunaan karbon dengan menumpang pesawat terbang. "Naik pesawat memang tidak bisa dihindari, tapi kami buat kebijakan untuk menekan penggunaannya dengan cara penempatan jadwal tur. Kalau kami lagi di Asia, kami tidak mau ambil undangan di Eropa. Dalam satu benua kami bisa tinggal beberapa bulan," terang Nova.

Calais

Pertunjukan akhir tahun lalu memberikan kesan mendalam. Mereka menjadi musisi pertama dari luar yang tampil di Calais Camp, Prancis bagian utara. Sejak 2002, Calais, kota pesisir yang merupakan titik penyeberangan terdekat dari daratan Benua Eropa ke Inggris menjadi lokasi penampungan pengungsi dan dijuluki sebagai Rimba Calais. Saat pertama datang ke sana, Nova mengaku ngeri. Tawaran bermain dari relawan ketika melakukan protes di COP21, Prancis, langsung direspons Filastine dengan memberi hiburan dan semangat hidup di rimba itu.

"Perempuan di sana mungkin hanya 2% termasuk saya. Agak takut juga awalnya. Mereka seperti mau rusuh karena haus akan hiburan. Tapi ketika saya sudah di atas panggung, rasa takut itu hilang dan mereka sangat apresiatif sekali. Setiap pertunjukan musik kami selalu menggunakan bahasa Inggris, Indonesia, dan bahasa Jawa. Ada beberapa kata yang mungkin mereka familier karena bahasa Indonesia adalah serapan dari Asia, Arab, dan Eropa," tambah Nova. Saat tampil di sana, mereka memperlihatkan video yang diproyeksikan secara langsung.

Visual ini mampu mengomunikasikan konsep secara jelas karya musik Filastine pada setiap pertunjukan. Melalui video visual itu, mereka mampu meresonansikan pesan secara kuat kepada para pengungsi. Perhatian Grey dan Nova terhadap isu perbatasan, kekarut-marutan konfl ik Timur Tengah, sampai isu transformasi sosial dunia membuat para imigran itu merespons kuat dengan cara bersorak dan berteriak.

Kini sebuah proyek dengan kapal pinisi yang akan berkeliling dunia sedang dipersiapkan. Bagaimana lengkapnya proses kreasi dan apa alasan mereka memilih isu lingkungan sebagai prinsip berkarya? Simak wawancara dan juga penampilan musik eksklusif Filastine dalam Kotak Musik yang dapat diunduh dalam aplikasi Media Indonesia di Appstore dan Google Play mulai hari ini. (M-5)