Menggagungkan Kebesaran Negara Lewat Musik

08 Agustus 2016 18:09
-
Penulis: Dzulfikri Putra Malawi
Foto: (kiri-kanan) Musisi Yovie Widianto, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Anggota DPR RI Fraksi Golkar Tantowi Yahya, Musisi Adi MS saat acara Idenesia di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (28/7). MI/RAMDANI
Editor: Adiyanto

 

MENJELANG perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, Adi MS memilih cara sendiri untuk merayakannya. sebuah konser bertajuk Simfoni Negeriku tengah dipersiapkan.

Rencananya konser tersebut akan digelar tanggal 13 Agustus mendatang di Aula Simfonia Jakarta pukul 19.30 WIB. Konser. Adi bersama orkestra yang didirikannya sejak 25 tahun lalu, Twilite Orchestra. Menurut Adi, konser nanti juga akan didukung oleh penampilan Lea Simanjuntak, Daniel Kristianto, harpis Rama Widi, paduan suara Twilite Chorus, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Mercu Buana, dan Perbanas Institute Choir.

“Saya ingin mengagungkan kebesaran negara sekaligus saya merayakan 25 tahun berdirinya Twilite Orchestra. Nanti akan ada dua album yang akan dibawakan,” kata Adi kepada Media Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Repertoar dua album tersebut diantaranya berasal dari sebuah album Simfoni Negeriku yang berisi lagu-lagu kebangsaan yang direkam ulang oleh Adi. “Tahun 1997 saya sadar kalau rekaman lagu-lagu Indonesia (salah satunya Indonesia Raya) itu usianya sudah 46 tahun, hasil rekamannya juga tidak bagus. Saya rekam ulang Indonesia Raya dan lagu patriotik lainnya seperti Hari Merdeka, Syukur, Mars Pancasila, Bagimu Negeri. Sampai sekarang, 19 Tahun lagu ini dipakai di KBRI dan instansi pemerintah lainnya. Saya tidak pernah menikmati sepeser lun royalti dari lagu ini,” kisah Adi.

Setelah album itu, kemudian Twilite Orchestra membuat album The Sound of Indonesia yang bekerjasama dengan Garuda Indonesia. Album ini rupanya direkam secara serius di Praha dan London. Sekaligus menjadi repertoar yang sering dibawakan Twilite Orchestra setiap manggung.

"Nanti (saat konser) juga kami undang 1000-an SD untuk berinteraksi kepada anak-anak, melihat ekspresi mereka saat melihat orkestra,” lanjutnya.

Selain peduli dengan musik Indonesia, dalam perjalanan kariernya bermusik, perhatiannya tak luput dari dunia pendidikan. Selain melibatkan anak-anak SD, sejak tahun 2000-2010 ia kerap membuat konser di perguruan tinggi.

"Salah satunya membuat konser Musikadia di Istora Senayan, melibatkan mahasiswa. Selalu sold out oleh mahasiswa lainnya yang menonton,” sambungnya.

Dalam mengembangkan Twilite Orchestra, ia menuturkan tidak semulus yang dibayangkan. “Kalau di negara lain itu didukung pemerintah terutama negara barat. Sementara di Indonesia tidak demikian. Saya tidak bergantung dengan pemerintah, saya membina anak-anak muda agar kelak mereka yang menjadi pejabat sadar untuk pengembangan seni dan budaya. Tahun 1990-an sering ke SD-SD memberikan satu pengalaman musik orkestra. Terkadang dalam sebuah konser, saat persiapan kami undang anak-anak,” pungkasnya. (Fik)