Romantisme di Balik Minimnya Warna

03 Agustus 2016 22:50
-
Penulis: Dzulfikri Putra Malawi
Foto: dok. TulusCompany
Editor: Adiyanto

 

Ungkapan rasa terima kasih kepada orang-orang yang memberikan manfaat dalam hidup TULUS  dirangkumnya dalam album ketiga bertajuk Monokrom yang baru saja dirilis Rabu lalu (3/8) di Jakarta setelah melepas dua single Pamit dan Tukar Jiwa beberapa bulan sebelumnya.

Transisi perwajahan album pertama bertajuk TULUS (2011), Gajah (2014) dan Monokrom (2016) seakan menguatkan pernyataan dari kesuksesannya dalam karier musik Tanah Air. “Album pertama memperkenalkan diri saya. Kedua menyampaikan bagaimana berkompromi dengan masa lalu. Sementara Monokrom yang juga jadi judul lagu memiliki maksud untuk berterima kasih. Spirit album ini adalah ucapan terima kasih untuk banyak pihak yg andil dalam album saya dan juga kehidupan saya,” papar pemilik nama lengkap Muhammad Tulus saat acara perilisan album Rabu siang.

Sekitar 85% lirik dan melodi yang disajikan di album ini ditulis olehnya sendiri. Lirik-lirik humanis yang membingkai cerita dan rasa keseharian. Mulai dari seruan semangat, gelombang kuat dan optimis di lagu Manusia Kuat, hingga imajinasi solusi dekonstruktif di lagu Tukar Jiwa. Lalu mulai dari cerita pentingnya rindu di Ruang Sendiri, hingga rekam momen-momen sederhana yang berkesan di perjalanan hidup lewat lagu Monokrom yang menjadi identitas album lewat perwajahan sampulnya.

“Saya memang suka foto yg monokrom. Buat saya warna yang sedikit itu lebih romantis. Mengembalikan memori kita ke waktu yang sesungguhnya (saat foto itu diambil). Secara tidak sadar karya saya terpengaruh oleh memori tersebut,” jelas TULUS.

Lirik lagu-lagu TULUS, menempati ruang yang tidak biasa di telinga pendengarnya. Sudut pandangnya unik. Bahkan pendengar tak jarang dibuat berpikir dua kali untuk menikmati dinamika kesusastraannya yang sederhana. Seperti tidak ingin berdiam dalam satu momen saja. TULUS tiba-tiba seperti remaja yang mabuk cinta, tapi juga dewasa seperti pujangga di waktu yang bersamaan. Pada akhirnya akan sampai pada sebuah perasaan, ketika TULUS bercerita tentang hidupnya, ia juga sedang bercerita tentang hidup kita.

Sama seperti dua album sebelumnya, karya ketiga ini juga diproduseri oleh Ari Renaldi. Eksplorasi proses kreatif baru, juga dilakukan oleh TULUS dan Ari Renaldi. Produksi album ini juga menjadi momoen kali pertama TULUS dan Ari menulis lagu bersama di beberapa nomor. “Menjawab soal untuk memperluas segmen pendengar dalam album ini bagi saya menulis lagu tidak pernah menjadikan dasar saya untuk berkarya. Masukan pasti selalu ada. Tapi saya percaya pengaruh segmentasi pasar itu di luar kuasa kita,” sambung Ari.

Menatriknya, eksplorasi lain yang dilakukan saat proses produksi yang berlangsung sejak tahun lalu adalah dengan merekam detail aransemen string section 6 lagu, di The City of Prague Philharmonic Orchestra, Republik Ceko.

“Idenya mengalir saja. Celetukan bisa diwujudkan menjadi karya. Beberapa ada yang mimpi. Tapi ini kerja tim. Misalnya, Kita sudah bikin lagu, mau tambahin string section, bang Riri (kakak TULUS) pernah bilang kalau rekaman di luar lebih efektif. Kadang yang terkesan seperti mimpi buat saya lupa, tapi bang Riri tiba-tiba bilang bulan depan kita rekaman di Praha ya,” Kisah TULUS soal ide merealilsasikan rekaman di Praha.

Pengalaman berproduksi di luar negeri tidak juga menjadi momen perdana. Sebelumnya ia pernah membuat video klip dalam lagu Sepatu di Hamburg saat berkesempatan manggung di sana. Kali ini TULUS juga memanfaatkan Republik Ceko untuk membuat klip dan karya yang lain. (Fik)